Ada Atau Tidak Ada Corona, Indonesia Akan Tetap Berutang

Posted on

Nilai mata uang rupiah menurun drastis akibat dampak sentimen wabah virus corona. Guna menjaga stabilitas ekonomi Indonesia, bank dunia menyetujui permohonan utang pemerintah sebesar 300 juta dolar AS.

Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati menyampaikan, ada tidaknya virus corona, Indonesia pasti akan berutang kepada bank dunia.

“Kalau mengenai pinjaman, ada atau tidak ada corona Indonesia pasti akan menambah utang. Karena shortfall cukup besar, di sisi lain adanya corona yang memperlambat dan juga tekanan peralatan belanja ekspansif pasti kebutuhan kita defisit,” ucap Enny, Selasa (24/3).

Menurutnya, tingginya biaya mitigasi dampak perluasan penyebaran virus corona mendorong pemerintah melakukan pinjaman dan dibutuhkan pelebaran defisit anggaran negara.

“Cuma persoalannya sekarang, bagaimana pun pelebaran defisit anggaran negara memiliki risiko tinggi. Yang perlu dilakukan adalah menggunakan seefektif mungkin pelebaran defisit itu. Jangan ada mata-mata anggaran yang sifatnya lagi tidak produktif dalam kondisi yang sangat emergensi,” paparnya.

Adanya utang dari world bank membuktikan Indonesia tengah melakukan pelebaran defisit untuk menggerakkan roda ekonomi kembali stabil. Namun, jika terus-menerus berutang dan dialokasikan ke arah yang tidak efektif, Enny khawatir akan menjadi bom waktu bagi ekonomi Indonesia ke depannya.

“Jika beban ini jatuh tempo dan belum bisa dibayarkan akan menjadi bom waktu karena ada beban bunga yang harus dibayarkan dan sebagainya. Jadi harus benar-benar efektif,” tandasnya. (Rmol)