Kekayaan 2 Ribu Orang Terkaya Di Dunia Lebih Banyak Dari 4,6 Miliar Penduduk Miskin

blank

Sebuah fakta menarik sekaligus miris disampaikan sebuah lembaga amal berbasis di Inggris, Oxfam. Sebuah data yang dirilis Oxfam menunjukkan ketimpangan ekonomi masyarakat dunia.

Data yang dirilis oleh Oxfam pada Senin (20/1) menyebutkan bahwa 2.153 orang terkaya dunia ternyata mengendalikan uang lebih banyak dibandingkan 4,6 miliar penduduk miskin pada 2019.

Oxfam menyebut, angka kekayaan mereka setara dengan upah kerja 12,5 miliar jam gadis miskin. Setidaknya bernilai 10,8 triliun dolar AS, setara dengan Rp 147.398 triliun (Rp 13.648/dolar AS) per tahunnya.

“Ekonomi kita yang hancur berbaris di kantong para miliarder dan bisnis besar dengan mengorbankan laki-laki dan perempuan biasa. Tidak heran orang-orang mulai mempertanyakan apakah para milarder seharusnya ada,” ujar Kepala Oxfam dari India, Amitabh Behar.

“Kesenjangan antara kaya dan miskin tidak dapat diselesaikan tanpa kebijakan penghilangan ketimpangan yang disengaja,” katanya yang akan mewakili Oxfam di Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada Selasa (21/1) di Davos, Swiss.

Laporan tahunan Oxfam juga menyebutkan miliarder dunia meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir dan lebih kaya dari 60 persen populasi global. Adapun angka-angka tersebut Oxfam dapatkan dari data Majalah Forbes dan Swiss Credit Suisse, meski datanya kerap diperselisihkan.

“Ada 22 pria terkaya di dunia memiliki lebih banyak kekayaan daripada semua wanita di Afrika,” ungkapnya.

Behar menggambarkan, jika 1 persen saja orang terkaya di dunia membayar 0,5 persen pajak tambahan atas kekayaan mereka selama 10 tahun, angka tersebut dapat menciptakan 117 juta lapangan pekerjaan.

Oleh karena itu, Behar menyerukan agar pemerintah harus memastikan bahwa orang-orang kaya membayar pajak mereka. Pajak itu kemudian harus digunakan untuk meningkatkan fasilitas seperti air bersih, perawatan kesehatan, dan sekolah yang lebih berkualitas.

Selain itu, dalam laporannya, Oxfam juga mencermati bagaimana ketimpangan yang terjadi antara perempuan dan laki-laki. Perempuan kerap kali dibebani untuk menjaga roda ekonomi, bisnis, dan pergerakan masyarakat.

Sayangnya, mereka menjadi memiliki sedikit waktu untuk belajar guna mencari nafkah yang layak. Mereka telah terjebak di bagian bawah ekonomi, kata Behar.

“Di seluruh dunia, 42 persen wanita tidak bisa mendapatkan pekerjaan karena mereka bertanggung jawab atas semua pengasuhan, dibandingkan dengan hanya 6 persen pria,” kata Oxfam. (rmol.id)

Artikel Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *