Kisah Baru Setya Novanto, ‘Koruptor’ Besar yang Bisa Jalan-Jalan dan Plesiran

blank

Masyarakat dihebohkan kembali oleh sosok Setya Novanto. Eks Ketua DPR yang tenar atas aksi ‘Papa Minta Saham’ ini terlihat tengah berbelanja di sebuah toko bangunan.

Kok bisa sih narapidana jalan-jalan?

Dilansir detikcom, Setya Novanto dipindah dari Lapas Sukamiskin ke Lapas Gunung Sindur. Eks Ketua DPR RI itu dipindah lantaran kedapatan pelesiran ke toko bangunan mewah di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Kabar pelesiran ini berawal dari beredarnya foto Novanto yang tengah datang ke tempat tersebut. Foto itu tersebar sejak Jumat 14 Juni kemarin.

Dalam foto yang beredar, Novanto tampak mengenakan kemeja lengan pendek, memakai topi hitam dan wajahnya ditutup masker. Dalam foto itu, Novanto tampak berbincang dengan seorang wanita berjilbab yang tengah menenteng tas berwarna merah. Diduga kuat wanita tersebut istrinya Deisti Astriani Tagor.

Lalu untuk apa terpidana kasus korupsi e-KTP berkunjung ke toko bangunan tersebut?

“Itu lah, maka dari itu sekarang ini di Lapas Gunung Sindur Pak Setnov masih diperiksa oleh tim dari LP Sukamiskin dan dari Kanwil Jawa Barat,” ujar Direktur Pembinaan Narapidana dan Latihan Kerja Produksi Kementerian Hukum dan HAM Junaedi saat dihubungi, Minggu (16/6/2019).

Petugas hingga saat ini masih mendalami latar belakang Setya Novanto plesiran ke toko bangunan. Setya Novanto masih menjalani pemeriksaan sejak tiba di Lapas Gunung Sindur pada Sabtu (15/6) kemarin.

blank
Foto : Setya Novanto Kelabui Petugas/Dok. Detik.com

“Ingin diketahui latar belakangnya, ketemu siapa, semuanya nanti akan terungkap setelah pemeriksaan oleh tim ini selesai. Mulai dari kemarin dilakukan pemeriksaan di Lapas Gunung Sindur,” katanya.

Petugas yang mengawal Setya Novanto pun terancam sanksi berat.

“Petugasnya, pengawal, sama Pak Kakanwil diperintahkan tim untuk diperiksa, kalau ada kelalaian di situ ya jelas ada sanksinya,” tuturnya.

Junaedi mengilustrasikan, ada kemungkinan pengawal tertipu senyuman Setya Novanto di rumah sakit hingga akhirnya lalai.

“Alasannya beliau di lantai 8 (rumah sakit) itu masih pakai kursi roda. Kemudian dengan ditemani beberapa orang keluarganya turun menggunakan lift ke lantai 3 tempat sebagai tempat penyelesaian administrasi pembayarannya. Dari situ lah tidak tidak ditempel oleh petugas,” jelasnya.

“Karena petugas kan tahu sendiri, kalau sudah mendapat senyum Pak Setnov ini percaya bangat lah, (sambil mengatakan ke petugas) ‘nanti aku balik lagi, aku hanya menyelesaikan ini,’. Ini saya hanya ilustrasi saja. (Dijawab petugas), ‘iya pak’. Ternyata Setnov balik jam 17.34 WIB, kira-kira 2 sampai 3 jam lah di luar itu,” lanjutnya.

Kredibilitas Kemenkumham

Kredibilitas Kemenkum HAM dipertanyakan seusai pelesiran narapidana korupsi e-KTP Setya Novanto. Menurut Kepala Kantor Wilayah Kemenkum HAM Jawa Barat Liberti Sitinjak, perihal kredibilitas itu sebenarnya sudah on the track atau berjalan semestinya.

“Jadi begini, sederhana saya menjawabnya itu. Kalau berbicara soal kredibilitas, pada prinsipnya kita menghadapi setiap orang yang berbeda-beda di lapas dan rutan,” kata Liberti saat dihubungi, Sabtu (15/6/2019).

“Kredibilitas kita itu sebenarnya sudah di dalam katakan on the track, cuma kalau soal kecolongan, namanya karakter berbeda-beda itu,” dia menambahkan.

Dia mengaku tak akan hanya tinggal diam menyikapi kasus pelesiran Setya Novanto. Belajar dari kasus ini, Liberti ingin membentuk regu khusus menangani narapidana yang sedang berobat keluar lapas. [CNBC]

Artikel Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *