Pemimpin yang Baik Itu Mendengar Kritik, Bukan ‘Nyerang’ Balik

blank

Pemerintahan yang baik adalah yang mau mendengarkan kritik. Bukan yang langsung bereaksi negatif ketika ada kritik yang diarahkan kepada mereka.

“Baik (kritik) yang membangun maupun yang menjatuhkan. Bukan yang segera bereaksi untuk ‘menyerang’ balik, atau membiarkan bawahan atau orang-orang yang mengatasnamakan dirinya ‘menyerang’ balik,” kata pakar hukum tata negara, Refly Harun, melalui akun Twitternya @ReflyHZ, Sabtu (30/5).

Jika demikian, tak ayal kritik terhadap pemerintah dari pihak-pihak ataupun orang yang peduli dengan negara menjadi kabur subtansinya lantaran diserang secara membabibuta.

“Kabur substansi kritiknya,” tekan Refly menambahkan.

Cuitan Refly ini sangat menggambarkan situasi saat ini, di mana pengktitik pemerintah justru diserang bahkan dibawa ke ranah hukum. Misalnya, Muhammad Said Didu yang dituduh melakukan pencemaran nama baik terhadap Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Kemudian, wartawan senior Farid Gaban yang dilaporkan ke polisi oleh Muanas Alaidid atas tuduhan telah melakukan penyebaran berita bohong ataupun hoax melalui akun Twitternya. Pelaporan ini berkaitan dengan kicauan Farid Gaban, yang mengkritik kerja sama yang dibuat Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki dengan situs jual-beli online, Blibli.com.

Terakhir, mantan prajurit TNI Angkatan Darat, Ruslan Buton, ditangkap oleh Polri karena dianggap telah melakukan tindakan makar lewat rekaman suaranya yang viral untuk meminta Presiden Jokowi mundur. (*)

Artikel Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *