Satu Lawan Berakal Sehat Lebih Baik dari Sejuta Kawan Bermental Penjilat

blank

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) HRS hadir pada acara peluncuran buku Pemikiran Sang Revolusioner karya Syahganda Nainggolan melalui rekaman suara.

Peluncuran buku ini dihadiri pula Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Gatot Nurmantyo.

Rekaman itu diperdengarkan oleh Ketua FPI DKI Jakarta Muhsin Alatas. HRS meminta Syahganda dan dua petinggi KAMI lainnya dibebaskan dari penjara.

“Saran saya kepada pemerintah agar bebaskan semua tahanan politik, ajak mereka diskusi, ajak mereka berdebat sehat, suruh mereka semua kritisi segala kebijakan pemerintah yang menurut mereka membahayakan bangsa,” kata HRS dalam peluncuran buku yang digelar virtual, Jumat 27 November 2020.

HRS menyarankan pemerintah menjadikan orang-orang kritis sebagai lawan tanding atau sparing partner.

HRS meminta pemerintah tak melulu memenjarakan orang-orang kritis.

Pemerintah diminta untuk mengajak diskusi kelompok yang berseberangan. Cara itu, kata HRS, lebih baik untuk memperbaiki kinerja pemerintah.

“Satu lawan yang cerdas berakal sehat lebih baik dari sejuta kawan yang bodoh dan bermental penjilat. Karena melalui lawan cerdas berakal sehat, rezim penguasa bisa mendeteksi kelemahan diri,” ujar HRS.

Dalam kesempatan itu Gatot Nurmantyo mengaku sempat mengajukan penangguhan penahanan bagi tiga petinggi KAMI yang terjerat kasus ujaran ‘kebencian’.

Namun gagasan Gatot itu ditolak langsung oleh Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, dan Anton Perdana. Gatot mengaku kaget atas penolakan itu.

“Sangat mengejutkan. Baik oleh saudara Syahganda, Jumhur, maupun Anton syarat surat pengangguhan itu ditolak oleh mereka mereka tidak mau surat penangguhan penaganan hanya karena satu syarat,” ucap Gatot.

Gatot menjelaskan ada tiga syarat yang harus dipenuhi tiga orang itu jika ingin ditangguhkan. Pertama, ketiganya harus menyanggupi tidak menghilangkan barang bukti.

Syarat kedua adalah mereka tidak boleh kabur. Kemudian syarat terakhir adalah tiga orang tersebut harus berjanji tidak mengulangi perbuatan mereka lagi.

“Yang ketiga ini yang ditolak oleh mereka semuanya. Jadi mereka lebih baik di tahanan, keluar tetap melanjutkan perjuangan,” ujar Gatot.

Sebelumnya, tiga petinggi KAMI diringkus polisi dalam kasus dugaan ujaran ‘kebencian’. Jumhur Hidayat, Syahganda Nainggolan, dan Anton Perdana dituduh mengumbar ujaran ‘kebencian’ yang memicu gelombang unjuk rasa menolak UU Cipta Kerja.***

Artikel Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *