Tak Dapat Bantuan Pemerintah, Cerita Tukang Pijat Tunanetra Saat Corona Menyedihkan

blank

Sepi, itulah suasana yang pertama terlihat dari depan panti pijat tunanetra Raga Sehat yang dikelola Resti Sumarni (52) di daerah Karawaci, Tangerang. Sudah lebih dari satu bulan rumah kontrakan berpetak tiga yang dijadikan sebagai tempat mengais rezeki itu tak lagi didatangi pasien pijat karena pandemi virus Corona.

Teteh, sapaan akrab Resti, bersama suami dan adik laki-lakinya yang juga tunanetra kini pasrah. Biasanya dalam sehari minimal dua pasien pijat dapat dilayani, namun kini hanya 10 pasien yang datang selama satu bulan terakhir.

“Dari mulai penanggalan ini setahu Teteh tanggal 13 Maret (2020) mulai adanya (Corona) sampai sekarang ya, itu pun kan nggak bareng-bareng ya kosongnya (pasien pijat). Kadang lima hari megang 1 (pasien), bleng (kosong), tiga hari megang 2 (pasien), bleng, empat hari megang 3 (pasien),” kata Teteh saat ditemui di rumahnya, Jalan Danau Poso 5, Perumnas 3 Karawaci, Tangerang, Sabtu (18/4/2020).

“Dalam jangka waktu satu bulan ini mungkin Teteh megang pasien hanya 10 pasien saja selama ada Corona. Kalau sebelum ada Corona mah yakin sehari ada 2 (pasien) lah minimal,” imbuhnya.

Teteh menuturkan pasien pijat yang datang ke lokasi dikenakan tarif Rp 50 ribu per orang untuk sekali pijat yang harus dia bagi dua dengan si pemilik usaha pijat. Teteh merasa pendapatannya kini terdampak dan mengalami perubahan yang drastis semenjak adanya virus Corona.

“Punya Pak Damiri (usaha pijat), Teteh masih ikut orang, jadi bagi hasil. Di tempat (pijat di lokasi) itu satu pasien aja Rp 50 ribu, Rp 50 ribu itu dibagi 2, jadi Teteh bagi hasil sistemnya. Ke sana (pemilik) Rp 25 ribu, ke Teteh Rp 25 ribu. Tapi itu mah kan (penghasilan) kotor, belum beli sabun, belum beli SoKlin lantai buat ngepel. Kalau nggak ada sama sekali (pasien) yaudah Teteh nggak megang uang, nggak megang pasien, nggak setoran. Jadi drastis banget dampaknya,” tuturnya.

Perempuan kelahiran Sukabumi itu menyampaikan, rumah kontrakan yang ditempati bersama dengan suami dan adiknya saat ini dibiayai sepenuhnya oleh pemilik usaha pijat, termasuk biaya listrik setiap bulannya. Sementara dia ditugaskan untuk membersihkan rumah dan juga melayani pasien pijat yang hendak menggunakan jasanya.

Bos (pemilik usaha pijat) Teteh yang ngontrakin, Teteh belum punya modal. Teteh mah numpang merantau ke sini. Teteh, suami orang Bogor, ngikut suami bikin KTP sama KK (Kartu Keluarga) di Bogor, asli mah Sukabumi kelahirannya. Dia (pemilik usaha) yang bayar listrik dan kontrakan, Teteh hanya bersih-bersih menerima pasien dan panggilan,” ucapnya.

Mengalami kesulitan keuangan membuat ibu dari tiga anak itu sempat terpaksa menjual barang-barang miliknya agar bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Namun sayangnya, barang-barang berupa seprai dan baju itu tidak laku sehingga membuat Teteh harus berhutang dengan tetangganya.

Tak kuasa menahan kesedihan, air matanya sempat menetes karena keinginannya untuk mudik ke kampung halaman dan bertemu dengan anak-anaknya kandas. Sebab, kondisi saat ini sedang tidak memungkinkan.

Kesulitannya terus terang sampai ada seprai, mau ada baju, mau Teteh jual, tapi sulit nggak ada yang beli. Akhirnya Teteh nggak dibeli seprainya (sama orang) tapi Teteh dikasih pinjam (uang) sama tetangga.

Sedih Teteh, sampai warung meneteskan air mata, mau pulang (ke kampung) nggak bisa, kata anak Teteh kan nyuruh pulang tapi kan daripada Teteh ke sana takutnya di sana kita diperiksa atau bagaimana yaudah lebih baik Teteh nggak pulang,” ujarnya.

Teteh mengaku hingga saat ini dirinya belum menerima bantuan apapun dari pemerintah setempat. Dia juga sempat kebingungan hingga akhirnya berusaha menghubungi salah satu radio swasta yang didengarnya pada saat itu untuk meminta bantuan sosial.

“Belum ada (bantuan dari pemerintah) karena Teteh mau ke mana mengajukan, karena nggak ada untuk diajukan dan nggak ada yang untuk dimintain tolong. Belum ada (pendataan dari RT), belum ada dari siapapun. Kemarin Teteh usaha nelpon ke Elshinta (radio), sama Elshinta sayangnya nggak disambungin ke operatornya akhirnya teteh dikasih nomor BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sama Kominfo. Nah, begitu Teteh telepon ternyata Teteh ngadu ke BNPB itu mah salah, itu mah badan penanggulangan bencana, bukan untuk minta bantuan,” kata Teteh.

Teteh bercerita, selama pandemi Corona dirinya hanya berdiam diri di rumah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mulai dari membersihkan rumah hingga mencuci pakaian. Mendengarkan siaran radio menjadi salah satu hiburan dan sumber informasi bagi dia dan juga keluarganya selama di rumah saja.

“Selama Corona ini belum pernah ada panggilan (dari pasien pijat) dan belum pernah ke mana-mana. Karena Teteh nggak ada panggilan (pijat), yaudah Teteh di tempat aja diem. Dari pagi sampai sore sampai malam sampai besok ya sudah di rumah saja diam sesuai dengan peraturan Pemerintah itu kan PSBB. Teteh nyapu, ngepel, nyuci piring, cuci baju, setelah itu denger radio saja, apa yang peraturan pemerintah di radio Teteh dengerin dan Teteh taatin. Tahu (peraturan) dari radio karena ngelihat TV nggak ada TV, ya kalau ada TV sama saja dengan radio yang didengerin kan suaranya dan maknanya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Teteh mengungkapkan baru mendapat bantuan dari beberapa pasien pijatnya berupa sembako dan beras. Dia pun meminta kepada pemerintah jika ingin memberi bantuan kepada disabilitas jangan menyulitkan. Teteh juga berharap pembagian bantuan sosial itu tidak lagi terhalang domisili berdasarkan kartu identitas serta dapat diproses secepat mungkin.

“Dikasih bantuan dari pasien, bantuannya bukan berupa uang, ada yang ngasih sembako, ada yang ngasih beras, ada yang ngasih hanya sembako aja nggak ada beras. Dimohon untuk pemerintah kalau mau membantu seperti Teh Resti ini tolong jangan dipersulit, secepatnya karena ini mau bulan suci Ramadan. Supaya tenang, kan Corona itu katanya ya pemerintah sendiri peraturan nggak boleh panik, diharap tenang dan jangan banyak pikiran, itu kan ketenangan itu supaya mewaspadai dan menyehatkan imun kita itu kan,” pinta Teteh.

“Kalau bisa jangan memandang KTP, atau mungkin kelihatan kan orangnya keadaan begini yang harus ditolongin, mudah-mudahan pemerintah sekarang meresponnya,” sambungnya.

Teteh mengatakan dirinya mengalami gangguan penglihatan sejak berusia 7 tahun. Saat itu tiba-tiba sebelah matanya pecah dan sebelahnya lagi tidak dapat melihat. Suaminya sendiri tidak dapat melihat karena cacar dan demam, sementara adiknya tidak dapat melihat sejak lahir.

“Teteh dari usia 7 tahun (buta) tiba-tiba tengah malem besoknya langsung nggak ngelihat, pecah (mata) yang ini, satu pecah, yang satu begini. Suami teteh dari umur 5 tahun kena cacar panas dari panas. Kalau adik saya dari lahir,” tandasnya.(Detikcom)

Artikel Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *