Waspada, Diduga Kuat Ekonomi Indonesia Bakal Turun Lagi…

blank

Prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia anjlok mulai ramai diperbincangkan oleh para ekonom. Terlebih, ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan dua WNI positif terinfeksi virus corona baru (Covid-19).

Salah seorang ekonom dari Lembaga Riset Ekonomi CORE Indonesia, Piter Abdullah menganalisis anjloknya growth Indonesia dari sisi laju investasi asing di dalam negeri.

Katanya, potensi menurunnya ekonomi RI di bawah angka 5 persen mulai terlihat dari investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) dan investasi di sektor keuangan (Financial asset investment) atau biasa disebut investasi portofolio.

“Jadi investasi asing baik dalam bentuk protofolio maupun FDI akan turun,” kata Piter Abdullah, Senin (9/3).

Lebih rinci, Piter Abdullah menjelaskan bahwa turunnya investasi portofolio karena kekhawatiran dari pasar global. Di mana, kecenderungan itu terlihat dari peralihan investasi ke bentuk instrument investasi yang bebas resiko.

“Baliknya ke Amerika atau dia investasi dalam bentuk emas. Berarati investasi portofolio kita turun. Itu tergambar di pasar modal kita yang indeks harga saham gabungan turun,” kata Direktur Eksekutif Core Indonesia ini.

Sementara untuk investasi FDI, yang di mana investasinya dalam bentuk bangun pabrik dan sejenisnya, juga memiliki kecenderungan turun.

blank
Lembaga Riset Ekonomi CORE Indonesia, Piter Abdullah

“Karena biasanya investasi dalam bentuk FDI diiringi juga dengan adanya tenaga asing yang masuk. Dengan adanya virus corona ini lalu lintas barang, lalu lintas modal terhambat. Jadi ya FDI juga akan turun,” ungkap Piter Abdullah.

Untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di angka 5 persen, paling minimal menurut Piter Abdullah, pemerintah mesti menggiatkan sejumlah insentif bagi pelaku pasar modal dan juga investor asing FDI.

“Pemerintah maupun Bank Indonesia sudah mengeluarkan paket-paket kebijakan, dalam rangka untuk menstabilkan nilai tukar, pasar keuangan, dan pemerintah juga sudah meberikan insentif-insentif, dan itu yang harus diteruskan dan lebih ditingkatkan lagi,” ujar Piter Abdullah.

“Tapi pemerintah juga perlu mejaga daya beli masyarakat, supaya domestik demand atau permintaan domestik bisa tetap tinggi, sehingga pertumbuhan ekonimi kita tejaga. Sekarang ini pertumbuhan ekonomi kita ada potensi untuk turun di bawah 5 persen,” pungkasnya menambahkan. [rmol]

Artikel Terkait :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *